Translate

Pancasila: Makna Asli, Gotong Royong, dan Tantangan Masa Kini

Pada 1 Juni 1945, Soekarno merumuskan apa yang disebut Pancasila, yang setelah diatur ulang, menjadi dasar negara yang kita sepakati. Namun, dalam pidato Bung Karno saat itu, ternyata lima sila atau Pancasila dapat direduksi menjadi hanya tiga sila, yaitu Trisila. Dari tiga sila itu, ternyata bisa direduksi lagi menjadi satu sila, atau yang kemudian disebut kerja sama saling membantu. Mengapa Pancasila bisa menjadi kerja sama saling membantu? 

Pancasila: Makna Asli, Gotong Royong, dan Tantangan Masa Kini

Pertama-tama, perlu ditekankan bahwa Pancasila bukanlah gagasan Soekarno semata, melainkan nilai-nilai yang sudah ada secara tradisional dalam masyarakat Indonesia. Bung Karno membacanya dengan cermat dan merumuskan formula sederhana yang bisa diartikan seperti yang kita kenal sekarang. Pancasila sebenarnya adalah bagian dari kehidupan sehari-hari kita.

Di masa lalu, nenek moyang kita telah melakukan hal-hal seperti ini, termasuk dalam hal gotong royong. Gotong royong bukan sekadar kerja sama, tetapi sebuah sistem sosial. Sebagai contoh, dalam masyarakat tempo dulu, ada pemimpin, ada bawahan, ada masyarakat biasa, dan setiap orang sudah tahu posisi dan tempatnya. Meskipun posisi dan tempat tersebut tidak menguntungkan, kebanyakan orang Indonesia di masa lalu terbiasa dengan kondisi seperti itu.

Pancasila: Makna Asli, Gotong Royong, dan Tantangan Masa Kini

Misalnya, aristokrat memiliki lahan yang luas, kemudian masyarakat biasa mencoba bekerja di sana, hasilnya dibagi-bagikan, dan seterusnya. Masyarakat Indonesia juga mampu bertahan tanpa pemerintah, seperti yang terlihat pada mereka yang tinggal di daerah pedesaan terpencil atau hidup nomaden. Bagaimana mereka bertahan saat kerajaan-kerajaan di Indonesia juga ada? Ternyata masyarakat seperti itu bisa hidup dan berkembang dengan baik tanpa pemerintahan, tanpa uang, atau pertukaran apapun.

Kenapa demikian? Karena mereka memiliki gotong royong. Gotong royong bukan hanya berlaku di Jawa, tetapi juga banyak daerah lain di Nusantara yang menerapkan sistem ini. Manusia pada dasarnya adalah makhluk kelompok. Mereka harus bekerja sama untuk bertahan hidup. Namun, keberadaan kelompok saja tidak cukup. Manusia harus mengembangkan keterampilan berbahasa agar dapat berkomunikasi satu sama lain. Inilah yang mendorong munculnya hierarki dan kepemimpinan.

Pancasila: Makna Asli, Gotong Royong, dan Tantangan Masa Kini

Namun, Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Meskipun ada hierarki dalam kerajaan-kerajaan kuno, ada lebih banyak orang yang hidup secara mandiri dan otonom. Mereka bergantung pada kekayaan alam dan bekerja sama dengan gotong royong. Mereka hidup tanpa pemimpin, namun tetap sejahtera. Mereka tidak memiliki aset pribadi, melainkan hanya memiliki aset bersama seperti sawah yang ditanami bersama, alat pertanian yang digunakan bersama, tempat ibadah yang digunakan bersama, dan sebagainya.

Namun, tantangan muncul di era modern. Sumber daya alam di Indonesia tidak lagi mencukupi untuk mendukung kehidupan manusia. Kita harus berdagang, ekspor, dan impor. Sayangnya, kita gagal beradaptasi. Terlalu banyak campur tangan ide dan gagasan dari luar yang menghambat kemajuan kita. China adalah contoh negara yang berhasil beradaptasi dengan nilai-nilai dan tradisi nenek moyangnya.

Pancasila: Makna Asli, Gotong Royong, dan Tantangan Masa Kini

Namun, Indonesia gagal mengadaptasi nilai-nilai leluhur dalam kehidupan modern kita. Misalnya, banyak orang yang tidak lagi memahami perbedaan antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. Hal ini tercermin dalam berbagai perilaku, seperti penggunaan pengeras suara masjid yang mengganggu, atau penyelenggaraan acara pribadi yang merugikan masyarakat umum.

Ketidakpahaman ini juga menjadi salah satu faktor penyebab korupsi yang merajalela di Indonesia. Banyak orang yang tidak membedakan antara uang negara dan uang pribadi. Pemimpin dan pejabat seringkali merasa memiliki uang negara seolah itu milik pribadi. Sehingga, Pancasila dan semangat gotong royong sebenarnya menjadi racun dalam masyarakat kita.


Kesimpulannya, nilai-nilai Pancasila dan gotong royong adalah bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang harus dihargai dan diadaptasi dengan bijak dalam kehidupan modern kita. Kita perlu memahami bahwa perbedaan antara kepentingan pribadi dan umum, serta mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang makna gotong royong dalam konteks zaman sekarang. Dengan begitu, kita dapat meraih kemajuan dan kesejahteraan yang sejalan dengan nilai-nilai leluhur kita.

referensi dan sumber : Kanal youtube Guru Gembul



Posting Komentar